Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI ke BRMP Sayuran Perkuat Dukungan Kemandirian Pangan
Lembang, 9 April 2026 — Komisi IV DPR RI melaksanakan Kunjungan Kerja Spesifik ke BRMP Sayuran di Lembang, Jawa Barat, dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan terhadap sektor pertanian, khususnya penguatan perbenihan dan pengembangan komoditas hortikultura.
Kegiatan diawali dengan peninjauan Gudang Bawang Putih, di mana rombongan memperoleh penjelasan mengenai produksi benih bawang putih hasil pengembangan BRMP sebagai komoditas strategis dalam mendukung pengurangan ketergantungan impor.
Selanjutnya, rombongan mengunjungi Laboratorium Kultur Jaringan Kentang untuk melihat secara langsung proses perbanyakan benih melalui teknologi kultur jaringan. Kegiatan dilanjutkan ke Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) yang menampilkan pemanfaatan lahan pekarangan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga, sekaligus dilakukan panen sayuran secara simbolis.
Rangkaian kunjungan dilanjutkan di aula melalui sesi pembukaan yang diisi dengan sambutan serta diskusi bersama para pemangku kepentingan.
Dalam sambutannya, Kepala BRMP, Prof. Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si, menyoroti masih tingginya ketergantungan impor bawang putih dibandingkan dengan kemampuan produksi dalam negeri.
“Kebutuhan impor bawang putih kita rata-rata 600 sampai 700 ribu ton per tahun, sementara kemampuan produksi lokal kita baru sekitar 50 ribu ton. Ini adalah tantangan besar yang sedang kita kejar melalui penyiapan benih unggul agar kita tidak lagi terus-menerus bergantung pada pasar luar negeri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi varietas unggul lokal yang mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.
“Varietas lokal seperti Lumbu Hijau dan Tawangmangu sanggup menghasilkan 15 hingga 25 ton per hektar. Dengan dukungan teknologi dan pemurnian varietas, kami siap mendukung target perluasan lahan hingga 100 ribu hektar,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, S.E., menegaskan pentingnya penguatan sektor perbenihan sebagai fondasi utama kemandirian pangan nasional.
“Kemandirian pangan tidak akan tercapai selama bumbu dapur yang paling dasar sekalipun, seperti bawang putih, masih harus didatangkan dari negeri orang. Memperkuat benih lokal adalah langkah pertama kita untuk berhenti menjadi pasar dan mulai menjadi produsen,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa kualitas benih menjadi faktor penentu dalam peningkatan daya saing komoditas pertanian.
“Benih merupakan titik awal sekaligus penentu utama keberhasilan pembangunan pertanian. Kualitas benih akan menentukan produktivitas dan daya saing produk bawang putih kita,” tambahnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang melibatkan anggota Komisi IV DPR RI, penangkar bawang putih, serta para pemangku kepentingan lainnya. Dalam diskusi tersebut, berbagai masukan dan aspirasi disampaikan, antara lain terkait kendala produksi, distribusi benih, serta dukungan kebijakan yang diperlukan untuk meningkatkan daya saing komoditas bawang putih dalam negeri.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Bandung Barat (Jeje Ritchie Ismail) bersama Wakil Bupati Bandung Barat, jajaran Kementerian Pertanian termasuk Direktorat Jenderal Hortikultura, Badan Pangan Nasional, serta perwakilan BUMN sektor pertanian seperti PT Pupuk Indonesia (Persero) dan ID FOOD, serta para penangkar dan asosiasi komoditas hortikultura.
Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara legislatif dan pelaksana teknis semakin kuat dalam mendukung pembangunan sektor pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.